15 menit lagi waktunya istirahat neh! Hmm.. aku noleh ke belakang... loh? Temen-temenku kok gak ada yag idup? cuman ada beberapa sing pada ngobrol. Oalah iya ding.. la dari tadi pagi jam pelajaran blas gak diisi sama gurunya. Hmm, pantes pada tidur! Aku aja juga baru sadar dari mampus 2 menitan lalu, hehe.
Jeglek!
Pintu dibuka. SangGuru kami yang terkenal tegas tapi gokil, Bu Ervin namanya, berjalan memasuki kelas.
"La kok pada tidur semmua to, Cah?" Bu Ervin memandang suasana kelas, heran.
"La dari pagi gag ada gurunya lo, Bu." Jawab salah seorang temanku.
"Kemana gurunya?"
"Nggak tahu, Bu." jawab yang lain.
"Seneng?" goda Bu Ervin.
Hwahahaha!!! Bukan jawaban yang kami berikan, tapi malah tawa yang membahana. Maklum, negara berkembang! Penduduknya masih dalam tahap perkembangan jadinya. Pelajaran kosong, guru pergi, bebas, libur n sejenisnya, eeeh nerima dengan ikhlas banget tanpa beban, tanpa tahu haknya dirampas, tanpa nuntut, tanpa protes (wahh, Ni'am banget tuh!sst..). Maklum.. masih SMA, kelas 2 apalagi, Masih awam sama yang namanya 'pemikiran ke depan'. Haddeh, dasar Ni'am! Belom tahu para remaja ini, padahal kita dikasih tanggung jawab, eeh kebagusan, tapi beban yang super duper buerat n bikin pusing! Inget gak, pernah dibilangi sama guru Akidah Akhlak kalo nasib bangsa itu terletak di tangan para pemuda. Nah, lho? Duh, beban berat neh buat yang ngerasa masih muda.
////BUAT YANG NGERASA MASIH MUDA, SILAKAN BERDISKUSI DENGAN PEMUDA PEMUDA SEKAMPUNG MENGENAI RENCANA BANGSA UNTUK MASA DEPAN.......
ttd: KEPALA KAMPUNG////
GUBRAKK!!!
Gak gitu, Pak Dhe!
Kita nih udah dikasih Yang Maha Pengasih en Penyayang sebuah 'machine' yang amazing banget yang malah lebih canggih daripada sebuah komputer, or mesin-mesin lainnya, jangan disia-siain! (Tuh, 'Am, dengerin!) Sayang, dunk! Eman-eman, kata si mbah saya tuh! So, bukan cuma diskusi or malah bikin acara gak resmi yang diresmi-resmiin atas nama rapat yang gak tahu tuh yang hadir ngikutin acaranya apa malah tidur (yang penting keliatan hidungnya kan?), nih dunia bangsa bisa maju semulus rencana tuh para pemuda! Enak banget?? No pain no gain, ya! kata buku tulisku, neh, hehe.
"Nuto nuto nuto (baca: titik-titik dalam bahasa arab) ... pilih mana kalian antara 'tahu banyak tentang sedikit' atau 'tahu sedikit tentang banyak'?" tanya Bu Guru yang cantik itu di sela-sela penjelasan surat Al Fathir ayat 32-nya.
Langsung, salah satu murid cewek di belakang, yang terkenal sibuk and pinternya, yang pasti disegani dunk (hmm,, dari dulu anak sibuk n pinter identik dengan disegani ya?! hmm..), coz dia ketua jurnalis di skulku, langsung nyeletuk, "Tahu banyak tentang sedikit." yang lain-lainnya deh. Diam, aku berfikir memahami maknanya. Iya to?
Sang Ibu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa menerawang seluruh isi kelas. "Bener?"
Maklum, remaja awam dan minim pengetahuan biasanya kan gampang kepengaruh. "Tahu banyak tentang sedikit, Bu." celetukku.
Sang Ibu lulusan Gontor itupun menghampiri salah seorang cowok yang duduk di
"Alasannya?"
"Mmm.. mungkin disini kita bisa mengetahui banyak tentang yang sedikit gitu loh, Bu." jawabnya sambil garuk-garuk kepala. Tanda bingung, tuh, batinku.
Lanjut dilanjut, pendapat diusut, ternyata jawaban kami semua SALAH!!! Tahu banyak tentang sedikit, loh apanya yang salah?
???
"Tahu banyak tentang sedikit itu berarti kalian mengetahui banyak hal, tapi cuma sedikit ilmunya. Kita ambil contoh... seandainya ilmu itu cuma ada 3, Matematika, B. Inggris dan Sastra. Jika kalian adalah yang tipe 'tahu banyak tentang sedikit', kalian akan tahu ketiga-tiganya, banyak kan? Tapi yang kalian dari masing-masingnya hanya sedikit, sedikit dan sedikit. Ditanya logaritma, bisa. Tapi ditanya rumus fungsi, geleng-geleng. Ditanya rumusnya simple future, tahu. Tapi ditanya tentang direct-indirect, cuman unjuk gigi. Eee... apalagi? Ditanya syair, ekspresif banget. Tapi diajak ngomongin tentang Kahlil Gibran, eh, masa gak tahu?"
Cah-cah cuma manggut-manggut sambil mikir.
"Masa to, Bu? Tahu banyak tentang sedikit kan .... nuto nuto nuto"
Hmm..
"La iya, kan banyak memang, tapi kan sedikit sedikit dan sedikit.."
Fuh! Terjadilah perdebatan yang seperti biasanya. Tapi labelnya guru kan dari dulu digugu lan ditiru, ya tetep menang dunk! (eh, emang disini gurunya bener kok, ugag salah!)
"Ooo.." cah-cah melongo.
"Kalo kalian adalah tipe yang 'tahu sedikit tentang banyak', kalian mungkin cuma tahu Ilmu Sastra aja, contohnya. Tapi dari yang sedikit itu alias cuma sastra tok, kalian itu tahu banyak. Kalian tahu cabang-cabangnya Ilmu Sastra apa aja. Kalian tahu sastra lama dan sastra baru. Kalian tahu prosa itu apa, juga tahu syair. Kalian bisa berpidato, bisa juga berpantun. Intinya, saking banyaknya yang kalian tahu tentang sastra itu, tidak ada yang bisa mengalahkan kalian dalam hal itu, paham?"
...
1 detik
2 detik
loading neh! duh..
"Oalaaah... paham, Bu!"
Hmmm... jadi begitu ceritanya ya sampe ada orang-orang yang spesialis-spesialis apalah namanya itu?! Spesialis gigilah, jantunglah, paru-paru sampe yang spesialis kejiwaan, yang biasanya dipanggil psikolog. So, biar kita ini gak cuman jadi ekor mulu, sekali-kali jadi kepala kan gak apa-apa?!
HEYYY!!!!BANGUN!!!! ngantuk yah Ni'am dongengin? :D makannya, goreng terus kerupukya, biar gak mlempem! Sayang banget dunk, dikasih Yang Maha Pemberi plastik spesial warna ijo, cantik lagi, n banyak yang ngiri pula, masa cuma kita buat tempat kerupuk mlempem sih??
Gak asik!!
Jeglek!
Pintu dibuka. SangGuru kami yang terkenal tegas tapi gokil, Bu Ervin namanya, berjalan memasuki kelas.
"La kok pada tidur semmua to, Cah?" Bu Ervin memandang suasana kelas, heran.
"La dari pagi gag ada gurunya lo, Bu." Jawab salah seorang temanku.
"Kemana gurunya?"
"Nggak tahu, Bu." jawab yang lain.
"Seneng?" goda Bu Ervin.
Hwahahaha!!! Bukan jawaban yang kami berikan, tapi malah tawa yang membahana. Maklum, negara berkembang! Penduduknya masih dalam tahap perkembangan jadinya. Pelajaran kosong, guru pergi, bebas, libur n sejenisnya, eeeh nerima dengan ikhlas banget tanpa beban, tanpa tahu haknya dirampas, tanpa nuntut, tanpa protes (wahh, Ni'am banget tuh!sst..). Maklum.. masih SMA, kelas 2 apalagi, Masih awam sama yang namanya 'pemikiran ke depan'. Haddeh, dasar Ni'am! Belom tahu para remaja ini, padahal kita dikasih tanggung jawab, eeh kebagusan, tapi beban yang super duper buerat n bikin pusing! Inget gak, pernah dibilangi sama guru Akidah Akhlak kalo nasib bangsa itu terletak di tangan para pemuda. Nah, lho? Duh, beban berat neh buat yang ngerasa masih muda.
////BUAT YANG NGERASA MASIH MUDA, SILAKAN BERDISKUSI DENGAN PEMUDA PEMUDA SEKAMPUNG MENGENAI RENCANA BANGSA UNTUK MASA DEPAN.......
ttd: KEPALA KAMPUNG////
GUBRAKK!!!
Gak gitu, Pak Dhe!
Kita nih udah dikasih Yang Maha Pengasih en Penyayang sebuah 'machine' yang amazing banget yang malah lebih canggih daripada sebuah komputer, or mesin-mesin lainnya, jangan disia-siain! (Tuh, 'Am, dengerin!) Sayang, dunk! Eman-eman, kata si mbah saya tuh! So, bukan cuma diskusi or malah bikin acara gak resmi yang diresmi-resmiin atas nama rapat yang gak tahu tuh yang hadir ngikutin acaranya apa malah tidur (yang penting keliatan hidungnya kan?), nih dunia bangsa bisa maju semulus rencana tuh para pemuda! Enak banget?? No pain no gain, ya! kata buku tulisku, neh, hehe.
"Nuto nuto nuto (baca: titik-titik dalam bahasa arab) ... pilih mana kalian antara 'tahu banyak tentang sedikit' atau 'tahu sedikit tentang banyak'?" tanya Bu Guru yang cantik itu di sela-sela penjelasan surat Al Fathir ayat 32-nya.
Langsung, salah satu murid cewek di belakang, yang terkenal sibuk and pinternya, yang pasti disegani dunk (hmm,, dari dulu anak sibuk n pinter identik dengan disegani ya?! hmm..), coz dia ketua jurnalis di skulku, langsung nyeletuk, "Tahu banyak tentang sedikit." yang lain-lainnya deh. Diam, aku berfikir memahami maknanya. Iya to?
Sang Ibu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa menerawang seluruh isi kelas. "Bener?"
Maklum, remaja awam dan minim pengetahuan biasanya kan gampang kepengaruh. "Tahu banyak tentang sedikit, Bu." celetukku.
Sang Ibu lulusan Gontor itupun menghampiri salah seorang cowok yang duduk di
barisan bangku paling depan, "Kamu milih apa, Lin?" Ulin, yang kerap disapa Mbahe-coz cashingnya yang katanya temen-temen pas-pasan, opss, tapi jangan diremehin, wawasannya keren loh-njawab dengan gadhul basharnya, "Tahu banyak tentang sedikit, Bu."
"Alasannya?"
"Mmm.. mungkin disini kita bisa mengetahui banyak tentang yang sedikit gitu loh, Bu." jawabnya sambil garuk-garuk kepala. Tanda bingung, tuh, batinku.
Lanjut dilanjut, pendapat diusut, ternyata jawaban kami semua SALAH!!! Tahu banyak tentang sedikit, loh apanya yang salah?
???
"Tahu banyak tentang sedikit itu berarti kalian mengetahui banyak hal, tapi cuma sedikit ilmunya. Kita ambil contoh... seandainya ilmu itu cuma ada 3, Matematika, B. Inggris dan Sastra. Jika kalian adalah yang tipe 'tahu banyak tentang sedikit', kalian akan tahu ketiga-tiganya, banyak kan? Tapi yang kalian dari masing-masingnya hanya sedikit, sedikit dan sedikit. Ditanya logaritma, bisa. Tapi ditanya rumus fungsi, geleng-geleng. Ditanya rumusnya simple future, tahu. Tapi ditanya tentang direct-indirect, cuman unjuk gigi. Eee... apalagi? Ditanya syair, ekspresif banget. Tapi diajak ngomongin tentang Kahlil Gibran, eh, masa gak tahu?"
Cah-cah cuma manggut-manggut sambil mikir.
"Masa to, Bu? Tahu banyak tentang sedikit kan .... nuto nuto nuto"
Hmm..
"La iya, kan banyak memang, tapi kan sedikit sedikit dan sedikit.."
Fuh! Terjadilah perdebatan yang seperti biasanya. Tapi labelnya guru kan dari dulu digugu lan ditiru, ya tetep menang dunk! (eh, emang disini gurunya bener kok, ugag salah!)
"Ooo.." cah-cah melongo.
"Kalo kalian adalah tipe yang 'tahu sedikit tentang banyak', kalian mungkin cuma tahu Ilmu Sastra aja, contohnya. Tapi dari yang sedikit itu alias cuma sastra tok, kalian itu tahu banyak. Kalian tahu cabang-cabangnya Ilmu Sastra apa aja. Kalian tahu sastra lama dan sastra baru. Kalian tahu prosa itu apa, juga tahu syair. Kalian bisa berpidato, bisa juga berpantun. Intinya, saking banyaknya yang kalian tahu tentang sastra itu, tidak ada yang bisa mengalahkan kalian dalam hal itu, paham?"
...
1 detik
2 detik
loading neh! duh..
"Oalaaah... paham, Bu!"
Hmmm... jadi begitu ceritanya ya sampe ada orang-orang yang spesialis-spesialis apalah namanya itu?! Spesialis gigilah, jantunglah, paru-paru sampe yang spesialis kejiwaan, yang biasanya dipanggil psikolog. So, biar kita ini gak cuman jadi ekor mulu, sekali-kali jadi kepala kan gak apa-apa?!
HEYYY!!!!BANGUN!!!! ngantuk yah Ni'am dongengin? :D makannya, goreng terus kerupukya, biar gak mlempem! Sayang banget dunk, dikasih Yang Maha Pemberi plastik spesial warna ijo, cantik lagi, n banyak yang ngiri pula, masa cuma kita buat tempat kerupuk mlempem sih??
Gak asik!!






0 comments:
Post a Comment
Thank you for comment ni'am's blog