Subscribe For Free Updates!

I'll not spam mate! I promise.

Wednesday, January 25, 2017

Antara Aku, Dia dan Rasa



Entah sudah berapa lama aku duduk memeluk lututku dan menangis sejadi-jadinya. Mungkin 3 jam. Atau lebih. Puluhan lembar tisu berserakan di lantai. Tangan kananku berusaha membuka laci kecil di samping kananku, meraih kaca kecil milik Yolanda, admin cantik yang sedang kugantikan piket kerja hari ini, dan aku terkejut melihat pantulan dari dalam cermin. Mataku merah dan membengkak. Begitu juga dengan hidungku yang juga mengeluarkan ingus yang sibuk aku lap dengan tisu-tisu murahan. Garis bibirku berubah bak senyum yang terbalik. Jilbabku tak karuan. Sebagian rambutku terlihat di bagian depan. Moodku rusak. Sense of humorku hilang. Penampilanku terlalu menakutkan untuk dilihat bahkan untuk diriku sendiri. Mungkin itulah sebabnya kenapa para pria takut untuk membuat wanita menangis. Bukan karena mereka terlalu sayang ataupun cinta, tetapi karena wanita terlihat jelek ketika sedang menangis. And I proved it.
                “Permisi..” Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari balik pagar.
                Sontak aku kaget. Cepat-cepat kuusap wajahku seadanya lalu beranjak berdiri dari kursiku, berjalan melewati pintu lalu membukakan pagar untuk seorang bapak paruh baya.
                “Mbak, paket. Dari Solo.” Ucap bapak tersebut dengan menyodorkan sebuah lembaran dengan maksud meminta tanda tanganku. Setengah kaget melihat wajahku yang amburadul.
                Ku intip paket tersebut yang bertandang di motor bapak ini yang ternyata adalah 5 buah kursi yang kupesan beberapa hari lalu.
                “Oh iya Pak, betul.” Kulap lagi sudut hidungku yang merah. Kuterima surat itu, kuberi tanda namaku lalu kukembalikan. Kami berdua lalu menggotong kursi-kursi itu dan menyandarkannya di samping pagar.
                “Makasih ya, Pak.” Sahutku sambil tersenyum memaksa.
                Tanpa sepatah katapun, diiringi dengan senyum tipisnya, ia pergi. Absurd.
                Aku lalu kembali duduk di kursi yang sama. Lelah dan bosan. Sendiri. Dan ini terjadi karena Yola, pagi-pagi tadi pukul 6 ia mengirimkan fotonya dengan wajah pucat pasi karena sakit. Bukti nih, begitu tulisnya. Ada-ada saja.
                Kuintip jam di dinding, pukul 1 siang and none shows up. Kuraih handphone di samping laptopku yang menyanyikan Teganya Rossa. Benar-benar tega.
                ‘Guys, kataya ngumpul di basecamp jam 1?’  tulisku di whatsapp grup yang baru dilihat 5 menit kemudian.
                ‘Mak, nunggu ujan.. deres beud sini -__-‘
                ‘Si Moni rewel mak, ibuknya ikutan rewel juga. Aku agak sorean ya !^_^’
                ‘OTW mandi mak ... ‘
                ‘...’
                Dan seabrek alasan-alasan lainnya. Iiiissshh. Ke luar rumah aja ah, nungguin bus lewat, terus teriak yang kenceng, Oooom telolet Ooooom... telolet telolet...
                Bosan menangis. Kubuka aplikasi BBMku, tidak ada chat masuk. Kubuka Whatsapp, hanya chat dari beberapa grup, Grup Tentor Nasional, ODOJ Sharing dan beberapa lainnya yang sedang malas kubalas. Kubuka Skype, tak ada pesan juga. Email, nihil. Tega. Akhirnya kubuka Facebook, geser-geser beranda, membaca status Facebook friends satu persatu. Berharap moodku membaik. Muncul foto-foto temanku yang sedang berbahagia dengan pesta pernikahannya. Ada juga yang memajang foto-foto anaknya dan lebih banyak lagi yang masih galau belum dipertemukan dengan jodohnya.
                Tuhan, jodohkan dia denganku. Kalau bukan, pokoknya jodohin aja yaaa... please??!!
                Tuhan, kuharap dialah yang selama ini aku tunggu. Dialah jodohku. Tapi kalau memang bukan, mungkin ada yang salah. Mohon di cek lagi...
                Atau dengan men-tag pacarnya dan menulis...
                Seperti peribahasa Arab, man jadda wa jodoh. Siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan berjodoh. Hamas (semangat) untuk kita ya, sayang.
Kutepuk jidatku. Cepat pertemukan jodoh mereka Tuhan, agar beranda Facebookku tidak dipenuhi oleh orang-orang galau ... yang membuat aku galau juga.
                Tiba-tiba jari jemariku tergelitik ingin mengintip akun seseorang. Ya, seseorang yang begitu tega membuatku menangis sejak kemarin. Seseorang yang tak begitu kukenal. Seseorang yang hampir tak pernah kujumpai, may be 3 times. Seseorang yang entah sejak kapan diam-diam kukagumi. Seorang yang sopan, tegas dan tidak neko-neko. Tipikal yang aku inginkan. Seseorang yang cukup berarti bagiku dan yang hampir akan menjadi bagian dari masa sekarangku bila aku tidak ceroboh melangkah di masa laluku.
                “..........bila diperbolehkan, saya berniat mengkhitbah dek Nisa.”  Itulah inti dari surat yang pernah kudapat 2 tahun lalu dari temanku, Ani.
                “Gimana, Nis?” tanyanya sambil memandangku. Pandangannya penuh tanya. Kembali kupandangi dia dengan tatapan  yang tak kalah ... penuh tanya juga.
                “...”
                “Difikir-fikir dulu, Nis. Nggak usah keburu jawabnya. Nggak usah dibawa beban.” Ucapnya kalem.
                Aku masih terdiam. Entah harus berkata apa. Well, I dont know anything about this guy. So?
                “Umm.. iya Ni.” Jawabku ragu-ragu.
                “Sejauh ini Dika cuma tahu kamu dari cerita-ceritaku aja. Masih ingat kan waktu kamu tak ajak mampir ke rumah dia dulu? Kalian juga pernah ketemu di rumahku? Inget kan?” dia mencoba untuk memberi ingatanku gambaran yang lebih jelas tentang orang ini. Well, also, I dont remember we really looked at each other and talked. I really dont. He just walked by when I sat in a chair. That’s all. So, is it enough?
                “...”
                Kusentuh kolom search. Kusentuh nama teratas dari automatic results. Kugeser layar hpku ke atas, mencari-cari statusnya yang terbaru setelah cerpen kemarin. Ya, cerpen. Cerpen itulah sumber kesedihanku sejak kemarin. Hanya sebuah cerita pendek mengenai pernikahannya yang akan digelar beberapa hari lagi dengan seorang gadis cantik pilihan temannya. Hanya sebuah karangan pendek yang mampu merusak hari-hariku ke depan dan entah akan bertahan hingga kapan. Jika saja itu adalah sebuah novel, aku akan berhenti membaca bahkan ketika aku belum sempat menyelesaikan paragraf pertama. Atau apakah kita akan tetap melanjutkan hidup meski dari awal kita tahu bahwa happy ending itu tidak ada?

2 tahun yang lalu
                “Dingin bangeett... “ gumamku sambil kutarik selimutku lebih rapat.
                Tiba-tiba kudengar handphoneku berdering. Ogah-ogahan kuraih handphoneku disudut meja di samping bed. Bapak, memanggil. Duh ayahku sayang, ini jam berapa?
                “Assalamu’alaikum.” ucapku sambil kembali memejamkan mata.
                “Wa’alaikumsalam. Durung tangi? (baca: belum bangun?)” tanya bapakku dengan nada setengah bercanda, seperti biasa.
                “Asreeep (baca: dingin). Ini masih jam berapa, pakk?”
                “4.30, nduk. Bangun. Sembahyang.” Aku tahu nada geregetannya bapakku. Andai saja beliau ada disini, beliau pasti sudah benar-benar memaksaku bangun entah dengan mata melek maupun merem.
                “Nggih (baca: iya).” Jawabku dengan mata yang masih merem.
                “Bapak tadi malam mimpi...” tumben bapakku tiba-tiba curhat.
                “Hmm?” Aku masih belum kuat melek pakkk.
                “...mimpi disalami sama... Dika.”
                Aku tahu surga dunia itu ada, dan bersembunyi dibalik selimut tebalku, meringkuk di atas kasur ini di tengah-tengah hawa dingin adalah salah satunya. Dan ketika aku memejamkan mataku menikmati segala kenikmatan ini, bukan berarti aku kehilangan kesadaranku kan? Tunggu? Bapak tadi bilang apa?
                “...nopo? (baca: apa?)” mungkin aku mengigau.
                “Dari beberapa malam lalu bapak istikhoroh, seperti yang sampean minta. Dan tadi malam .. itu. Bapak mimpi disalami sama Dika ini.”
                Sekali lagi kukatakan, pagi ini hanya dingin. Oh, belum kukatakan sebelumnya ya? Well, let me tell you, pagi ini hanya dingin dan tidak hujan. Tapi kenapa aku merasa mendengar sesuatu yang keras dan menakutkan ya? Tidak ada petir kan? Atau mungkin suara dari kamar-kamar sebelah?
                “...” aku langsung terduduk. Selimutku jatuh dan aku tidak merasakan dingin lagi. Bagaimana bisa cuaca menjadi aneh begini? 5 menit yang lalu aku kedinginan dan sekarang tidak sama sekali? Aneh.
                “Umm..” dan aku masih belum tahu harus berkata apa. Kutepuk jidatku pelan-pelan agar tak bersuara. Gimana nih?
                “Piye, nduk? (Gimana, nduk?)” tanya bapakku sekali lagi.
                “Anu ... sebenarnya, saya sudah jawab langsung ke mas Dika masalah itu..” jawabku ragu-ragu.
                “Loh kan sampean minta tolong bapak buat istikhorohkan?” nadanya terdengar agak kaget.
                “La bapak ndak cepet-cepet ngasih kabar, kan udah seminggu lebih. Nisa kan ndak pengen mas Dika nunggu lama-lama. Ndak enak.” Ya Rabb...
                “Trus, jawabanmu?”
                “Yaaa.... ndak ..” kugigit bibir bawahku. Takut. Apa yang sudah kulakukan?
                Bapak diam. Aku mendengar beliau menghela nafasnya panjang-panjang seakan memaksa diri tuk bersabar dari beban hidup yang begitu berat.
                “Begitu ya?” tanyanya singkat.
                “Iya, Pak. Laaa aku juga ndak tahu-tahu banget sama mas Dika ini.” Alasan yang kurang cerdas.
                “Apa iya itu alasan?” Suara bapak lirih.
                Tiba-tiba tubuhku menggigil. Apa dingin lagi? Kenapa cuaca semakin absurd juga?
                                                                                                ~~~
                to be continued...

Socializer Widget By Blogger Yard
SOCIALIZE IT →
FOLLOW US →
SHARE IT →

0 comments:

Post a Comment

Thank you for comment ni'am's blog