Entah sudah
berapa lama aku duduk memeluk lututku dan menangis sejadi-jadinya. Mungkin 3
jam. Atau lebih. Puluhan lembar tisu berserakan di lantai. Tangan kananku
berusaha membuka laci kecil di samping kananku, meraih kaca kecil milik
Yolanda, admin cantik yang sedang kugantikan piket kerja hari ini, dan aku
terkejut melihat pantulan dari dalam cermin. Mataku merah dan membengkak.
Begitu juga dengan hidungku yang juga mengeluarkan ingus yang sibuk aku lap
dengan tisu-tisu murahan. Garis bibirku berubah bak senyum yang terbalik. Jilbabku
tak karuan. Sebagian rambutku terlihat di bagian depan. Moodku rusak. Sense of humorku hilang. Penampilanku
terlalu menakutkan untuk dilihat bahkan untuk diriku sendiri. Mungkin itulah sebabnya
kenapa para pria takut untuk membuat wanita menangis. Bukan karena mereka
terlalu sayang ataupun cinta, tetapi karena wanita terlihat jelek ketika sedang
menangis. And I proved it.
“Permisi..”
Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari balik pagar.
Sontak
aku kaget. Cepat-cepat kuusap wajahku seadanya lalu beranjak berdiri dari
kursiku, berjalan melewati pintu lalu membukakan pagar untuk seorang bapak
paruh baya.
“Mbak,
paket. Dari Solo.” Ucap bapak tersebut dengan menyodorkan sebuah lembaran
dengan maksud meminta tanda tanganku. Setengah kaget melihat wajahku yang
amburadul.
Ku
intip paket tersebut yang bertandang di motor bapak ini yang ternyata adalah 5
buah kursi yang kupesan beberapa hari lalu.
“Oh
iya Pak, betul.” Kulap lagi sudut hidungku yang merah. Kuterima surat itu,
kuberi tanda namaku lalu kukembalikan. Kami berdua lalu menggotong kursi-kursi
itu dan menyandarkannya di samping pagar.
“Makasih
ya, Pak.” Sahutku sambil tersenyum memaksa.
Tanpa
sepatah katapun, diiringi dengan senyum tipisnya, ia pergi. Absurd.
Aku
lalu kembali duduk di kursi yang sama. Lelah dan bosan. Sendiri. Dan ini
terjadi karena Yola, pagi-pagi tadi pukul 6 ia mengirimkan fotonya dengan wajah
pucat pasi karena sakit. Bukti nih, begitu tulisnya. Ada-ada saja.
Kuintip
jam di dinding, pukul 1 siang and none
shows up. Kuraih handphone di samping laptopku yang menyanyikan Teganya Rossa. Benar-benar tega.
‘Guys, kataya
ngumpul di basecamp jam 1?’ tulisku
di whatsapp grup yang baru dilihat 5 menit kemudian.
‘Mak, nunggu ujan.. deres beud sini -__-‘
‘Si Moni rewel mak, ibuknya ikutan rewel
juga. Aku agak sorean ya !^_^’
‘OTW mandi mak ... ‘
‘...’
Dan seabrek
alasan-alasan lainnya. Iiiissshh. Ke
luar rumah aja ah, nungguin bus lewat, terus teriak yang kenceng, Oooom telolet
Ooooom... telolet telolet...
Bosan menangis.
Kubuka aplikasi BBMku, tidak ada chat masuk. Kubuka Whatsapp, hanya chat dari
beberapa grup, Grup Tentor Nasional, ODOJ Sharing dan beberapa lainnya yang
sedang malas kubalas. Kubuka Skype, tak ada pesan juga. Email, nihil. Tega. Akhirnya kubuka Facebook, geser-geser beranda, membaca status
Facebook friends satu persatu.
Berharap moodku membaik. Muncul foto-foto temanku yang sedang berbahagia dengan
pesta pernikahannya. Ada juga yang memajang foto-foto anaknya dan lebih banyak
lagi yang masih galau belum dipertemukan dengan jodohnya.
Tuhan, jodohkan dia denganku. Kalau bukan,
pokoknya jodohin aja yaaa... please??!!
Tuhan, kuharap
dialah yang selama ini aku tunggu. Dialah jodohku. Tapi kalau memang bukan, mungkin
ada yang salah. Mohon di cek lagi...
Atau dengan
men-tag pacarnya dan menulis...
Seperti peribahasa Arab, man jadda wa jodoh.
Siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan berjodoh. Hamas (semangat) untuk kita ya, sayang.
Kutepuk
jidatku. Cepat pertemukan jodoh mereka Tuhan, agar beranda Facebookku tidak dipenuhi
oleh orang-orang galau ... yang membuat aku galau juga.
Tiba-tiba
jari jemariku tergelitik ingin mengintip akun seseorang. Ya, seseorang yang
begitu tega membuatku menangis sejak
kemarin. Seseorang yang tak begitu kukenal. Seseorang yang hampir tak pernah
kujumpai, may be 3 times. Seseorang
yang entah sejak kapan diam-diam kukagumi. Seorang yang sopan, tegas dan tidak
neko-neko. Tipikal yang aku inginkan. Seseorang yang cukup berarti bagiku dan
yang hampir akan menjadi bagian dari masa sekarangku bila aku tidak ceroboh
melangkah di masa laluku.
“..........bila diperbolehkan, saya berniat mengkhitbah dek Nisa.” Itulah inti dari surat yang pernah kudapat 2
tahun lalu dari temanku, Ani.
“Gimana, Nis?” tanyanya sambil
memandangku. Pandangannya penuh tanya. Kembali kupandangi dia dengan
tatapan yang tak kalah ... penuh tanya
juga.
“...”
“Difikir-fikir dulu, Nis. Nggak
usah keburu jawabnya. Nggak usah dibawa beban.” Ucapnya kalem.
Aku masih terdiam. Entah harus
berkata apa. Well, I dont know anything
about this guy. So?
“Umm..
iya Ni.” Jawabku ragu-ragu.
“Sejauh ini Dika cuma tahu kamu
dari cerita-ceritaku aja. Masih ingat kan waktu kamu tak ajak mampir ke rumah
dia dulu? Kalian juga pernah ketemu di rumahku? Inget kan?” dia mencoba untuk
memberi ingatanku gambaran yang lebih jelas tentang orang ini. Well, also, I dont remember we really looked
at each other and talked. I really dont. He just walked by when I sat in a
chair. That’s all. So, is it enough?
“...”
Kusentuh kolom search. Kusentuh nama teratas dari automatic results. Kugeser layar hpku ke
atas, mencari-cari statusnya yang terbaru setelah cerpen kemarin. Ya, cerpen.
Cerpen itulah sumber kesedihanku sejak kemarin. Hanya sebuah cerita pendek
mengenai pernikahannya yang akan digelar beberapa hari lagi dengan seorang
gadis cantik pilihan temannya. Hanya sebuah karangan pendek yang mampu merusak
hari-hariku ke depan dan entah akan bertahan hingga kapan. Jika saja itu adalah
sebuah novel, aku akan berhenti membaca bahkan ketika aku belum sempat
menyelesaikan paragraf pertama. Atau apakah kita akan tetap melanjutkan hidup
meski dari awal kita tahu bahwa happy
ending itu tidak ada?
2 tahun yang lalu
“Dingin bangeett... “ gumamku
sambil kutarik selimutku lebih rapat.
Tiba-tiba kudengar handphoneku
berdering. Ogah-ogahan kuraih handphoneku
disudut meja di samping bed. Bapak,
memanggil. Duh ayahku sayang, ini jam berapa?
“Assalamu’alaikum.” ucapku
sambil kembali memejamkan mata.
“Wa’alaikumsalam. Durung tangi?
(baca: belum bangun?)” tanya bapakku dengan nada setengah bercanda, seperti
biasa.
“Asreeep (baca: dingin). Ini masih
jam berapa, pakk?”
“4.30, nduk. Bangun.
Sembahyang.” Aku tahu nada geregetannya bapakku. Andai saja beliau ada disini,
beliau pasti sudah benar-benar memaksaku bangun entah dengan mata melek maupun
merem.
“Nggih (baca: iya).” Jawabku
dengan mata yang masih merem.
“Bapak tadi malam mimpi...”
tumben bapakku tiba-tiba curhat.
“Hmm?” Aku masih belum kuat
melek pakkk.
“...mimpi disalami sama... Dika.”
Aku tahu surga dunia itu ada,
dan bersembunyi dibalik selimut tebalku, meringkuk di atas kasur ini di
tengah-tengah hawa dingin adalah salah satunya. Dan ketika aku memejamkan
mataku menikmati segala kenikmatan ini, bukan berarti aku kehilangan
kesadaranku kan? Tunggu? Bapak tadi bilang apa?
“...nopo? (baca: apa?)” mungkin
aku mengigau.
“Dari beberapa malam lalu bapak
istikhoroh, seperti yang sampean minta. Dan tadi malam .. itu. Bapak mimpi disalami
sama Dika ini.”
Sekali lagi kukatakan, pagi ini
hanya dingin. Oh, belum kukatakan sebelumnya ya? Well, let me tell you, pagi ini hanya dingin dan tidak hujan. Tapi
kenapa aku merasa mendengar sesuatu yang keras dan menakutkan ya? Tidak ada
petir kan? Atau mungkin suara dari kamar-kamar sebelah?
“...” aku langsung terduduk. Selimutku
jatuh dan aku tidak merasakan dingin lagi. Bagaimana bisa cuaca menjadi aneh
begini? 5 menit yang lalu aku kedinginan dan sekarang tidak sama sekali? Aneh.
“Umm..” dan aku masih belum tahu
harus berkata apa. Kutepuk jidatku pelan-pelan agar tak bersuara. Gimana nih?
“Piye, nduk? (Gimana, nduk?)”
tanya bapakku sekali lagi.
“Anu ... sebenarnya, saya sudah
jawab langsung ke mas Dika masalah itu..” jawabku ragu-ragu.
“Loh kan sampean minta tolong
bapak buat istikhorohkan?” nadanya terdengar agak kaget.
“La bapak ndak cepet-cepet
ngasih kabar, kan udah seminggu lebih. Nisa kan ndak pengen mas Dika nunggu
lama-lama. Ndak enak.” Ya Rabb...
“Trus, jawabanmu?”
“Yaaa.... ndak ..” kugigit bibir
bawahku. Takut. Apa yang sudah kulakukan?
Bapak diam. Aku mendengar beliau
menghela nafasnya panjang-panjang seakan memaksa diri tuk bersabar dari beban
hidup yang begitu berat.
“Begitu ya?” tanyanya singkat.
“Iya, Pak. Laaa aku juga ndak
tahu-tahu banget sama mas Dika ini.” Alasan yang kurang cerdas.
“Apa iya itu alasan?” Suara
bapak lirih.
Tiba-tiba tubuhku menggigil. Apa
dingin lagi? Kenapa cuaca semakin absurd juga?
~~~
to be continued...





